<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Akuadadisini's Weblog</title>
	<atom:link href="http://akuadadisini.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akuadadisini.wordpress.com</link>
	<description>atheis.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Nov 2008 06:59:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akuadadisini.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Akuadadisini's Weblog</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akuadadisini.wordpress.com/osd.xml" title="Akuadadisini&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akuadadisini.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Iseng</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/11/11/iseng/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/11/11/iseng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 08:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Jalanan nampak sepi malam ini. Hanya beberapa kendaraan yang berseliweran. Bahkan para pedagang kaki lima pun mulai membereskan dagangannya bersiap-siap hendak pulang. Taman pinggir jalan itupun nampak lengang. Cahaya temaram lampu taman tak mampu menerangi setiap sudutnya. Dibangku taman sesosok lelaki tampak terduduk termangu. Matanya menatap dikejauhan. Wajahnya tampak letih dengan guratan-guratan yang mengambarkan umurnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=31&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Jalanan nampak sepi malam ini. Hanya beberapa kendaraan yang berseliweran. Bahkan para pedagang kaki lima pun mulai membereskan dagangannya bersiap-siap hendak pulang.<span> </span>Taman pinggir jalan itupun nampak lengang. Cahaya temaram lampu taman tak mampu menerangi setiap sudutnya. Dibangku taman sesosok lelaki tampak terduduk termangu. Matanya menatap dikejauhan. Wajahnya tampak letih dengan guratan-guratan yang mengambarkan umurnya yang telah mendekati umur 40.<span> </span>Lelaki itu masih terlihat menerawang, melihat gambaran-gambaran yang hanya terdapat di otaknya. Perlahan lelaki yang duduk membungkuk itu merenggangkan badannya. Ditengah-tengah gerakan dia tiba-tiba berhenti seakan teringat sesuatu. Sedetik lamanya dia mematung. Kemudian seakan memantapkan pikirannya, dia bangkit dan mulai berjalan keluar dari taman itu. Lelaki itu berhenti di samping mobil yang parkir tidak jauh dari sana, menaikinya dan menghilang bersama malam.<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Didalam mobil yang sepi tanpa alunan musik yang menemani, rex menatap jalanan di depannya. Sebenarnya dia masih bingung hendak pergi kemana. Namun yang dia tahu pasti dia tidak akan pulang kerumah. Dia belum sanggup. Mungkin dia tidak akan bisa. Besok hari pernikahannya. Dan dia enggan menjalaninya. Sama enggannya dengan ketika ia melamar calon istrinya. Dia tidak pernah berniat untuk menikah. Pernikahan besok hanya merupakan persetujuannya atas paksaan kedua orang tua yang tidak sanggup lagi melihat anaknya masih sendiri. Bagi Rex, calon istrinya hanyalah perempuan yang disodorkan oleh ibunya. Bahkan dia kadang tidak ingat dengan wajahnya. Sebenarnya dia bingung calon istrinya itu mau menerima lamarannya yang asal-asalan. Tetapi dia mungkin punya alasan sendiri yang saat ini Rex tidak mau tahu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Dengan tangan yang memegang setir dan mata yang menatap kejalanan yang lengang, pikiran Rex berkelana kesuatu masa ketika di masih sangat muda dan bodoh. Ketika itu dia masih mahasiswa tingkat tiga yang sedang tergila-gila. Objek obsesinya adalah senior di jurusannya. Angkatan mereka hanya terpaut satu tahun. Dan Rex telah terpesona sejak melihatnya ketika dia pertama kali menginjakkan kaki di kampus. “Farah” bisik benak Rex. Nama itu masih terpatri walau puluhan tahun telah berlalu. Farah. Gadis manis berkulit sawo matang dengan tinggi sedang. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dengan gadis itu. Tapi entah kenapa, saat mata Farah menatap matanya, Rex tahu gadis itu tidak akan pernah terlupa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Rex mengerem mobilnya tiba-tiba, lamunannya membuat dia tidak sadar akan lampu lalu-lintas yang telah berubah merah. Walaupun jalanan sepi, Rex telah begitu terbiasa mematuhi aturan. Seperti dia telah terbiasa mematuhi setiap aturan dari orangtuanya. Rex menengok kesamping. Dipinggir jalan tampak sepasang kekasih yang tengah bergandengan tangan. Tanpa sadar dia tersenyum, teringat ketika Farah bersedia menjadi pacarnya, baru tiga bulan kemudian dia mengijinkan Rex memegang tangannya. Rex hampir gila karena frustasi ketika itu. Tetapi dia memuja pandangan Farah yang masih kolot, sama dengan dia memuja setiap segi-segi dari diri Farah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Lampu kembali hijau. Dengan enggan Rex kembali meneruskan perjalanannya yang entah kemana. Dirinya yang masih muda kembali berkelebat dalam pikirannya. Saat-saat paling membahagiakan dari hidupnya. Saat-saat yang dilaluinya bersama Farah. Setelah setahun berpacaran, Rex ketika itu nekat melamar Farah. Tetapi Farah hanya tersenyum sambil berkata “Pikirkan lagi. Kau masih belum dewasa. Kau bahkan belum lulus. Menikah adalah tahap hidup yang amat penting.” Rex menyetujui apapun yang Farah inginkan. Karena itu Rex memutuskan untuk menunggu hingga dia lulus dan bekerja. Ketika dia melamar Farah untuk kedua kalinya, Farah hanya berkata singkat “Bicarakan dulu dengan orang tua mu” Pandangan Rex tiba-tiba kabur. Dia mengejap-ngejapkan matanya yang seakan berdesakan oleh air mata yang berdesakan untuk keluar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Rex muda adalah rex yang percaya segalanya. Dia yakin orangtuanya setuju dengan perempuan pilihannya. Karena, bukankan orangtuanya sangat mencintai dia, anak lelaki semata wayang? <span> </span>Waktu itu ibu dan bapaknya ingin bertemu dulu dengan Farah. Rex dengan bahagia mematuhi. Tidak sabar ingin mengenalkan Farah kepada kedua orangtuanya. Dia sangat naif, dia bahkan tidak mempunyai gambaran apa yang akan terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Sepeda motor yang tiba-tiba menyalipnya mengembalikan Rex ke dunia nyata. Tangannya mengusap dahinya yang terasa berkeringat walaupun udara dingin dalam mobilnya. Rex melihat jam, “Sudah jam dua pagi. Delapan jam lagi aku harus mengucapkan sumpah untuk menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal dan tidak aku inginkan.” Batin Rex. “perempuan pilihan ibu.” Makinya dengan getir. Mulutnya masih terasa pahit oleh kata-kata yang berhamburan keluar tadi. Ketika memandang ke kejauhan, matanya menangkap<span> </span>bayang-bayang kabur dari seraut wajah gadis muda yang pernah dicintainya, masih dicintainya hingga detik ini ketika dia mencoba membalik putaran waktu hingga dapat kembali ke saat wajah itu menemani hari-harinya. Kini air mata tak mampu lagi terbendung. Air mata kepahitan dan kesakitan yang telah dia tolak selama bertahun-tahun, keluar tanpa dapat ditahan lagi. Membanjiri, menghanyutkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Di pagi hari yang cerah Farah bertemu dengan kedua orangtuanya. Orangtuanya tampak menerima Farah dengan tulus dan tangan terbuka. Rex ingat hari itu dia merasa sangat bersemangat dan<span> </span>penuh harapan. Hari itu berakhir dengan lambaian tangan dan senyum yang terkembang dibibir Rex. Dia tidak sabar untuk mendengar persetujuan orangtuanya. Sesaat setelah pintu tertutup, Rex berbalik menghadap kedua orang tuanya. Dia terkejut dengan ekpresi keduanya yang pahit. “Bagaimana ibu?” tanya Rex. Setelah ibunya lama tidak menjawab, dengan hati-hati Rex kembali bertanya “Ibu?” “Kamu tidak boleh menikah dengan dia!” tukas ibunya ketus. Rasa dingin merayapi hati Rex ketika itu. Tetapi ibu dan bapaknya belum selesai “Perempuan itu tidak cocok menjadi istri kamu. Sudah lebih tua, bukan orang sesuku, <em>gak </em>jelas lagi orang tuanya siapa!” “Bapak dengar kan tadi, waktu dia bilang dia <em>gak </em>tahu siapa bapaknya. Katanya sih bapaknya pergi waktu ibunya lagi hamil. Tapi siapa tahu ibunya <em>gak </em>nikah. Bisa saja kan dia bohong. Lagipula dia bilang ibunya kerja di panti pijat. <em>Iih..</em>” Bapaknya hanya menganguk-ngangguk. “Jangan sama dia ya Bagus. Nanti apa kata orang. Belum lagi kalau saudara-saudara tahu. Kita nanti mau ngomong apa?” “Kalau kamu memang ingin nikah, ibu akan cari yang lebih cantik, lebih hebat. Yang pasti jelas siapa orang tuanya.” Rex hanya terdiam kupingnya sakit karena gagal menahan terjangan kata-kata yang dilontarkan ibunya. Samar-samar dia masih mendengar dengusan tidak setuju ibunya dan suara bapaknya yang meyakinkan dirinya untuk mencampakkan Farah sebelum terlambat. Rex membalikkan badannya. Kakinya berlari keluar rumah, berlari mencari Farah. Tanpa menghiraukan teriakan ibu bapanya yang kaget dan memanggilnya. <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Akhirnya kaki-kakinya menemukan Farah yang ternyata menunggunya dibalik tikungan jalan tak jauh dari tempatnya. Farah hanya menatapnya dalam diam. Seakan nafasnya yang memburu dan kakinya yang gemetar karena dipaksa berlari bukanlah hal yang aneh. Tatapannya menemukan tatapan Farah. Mulut Farah membuka dan mengeluarkan kata-kata yang paling tidak ingin didengarnya. “Kita berpisah disini. Aku tahu tanggapan orangtuamu. Tetapi aku tidak akan ber</span>ubah<span lang="IN"> hanya untukmu. Dan aku tidak akan membiarkan orang lain memandang rendah diriku dan ibuku. Bahkan orangtuamu.” Rex masih tidak sanggup berkata-kata. Farah menundukkan kepalanya dan bangkit dari duduknya. Dia memandang Rex sekali lagi. Kemudian berbalik pergi dari hidupnya. Dan selama itu dia hanya diam tak mampu berkata apa-apa. Sementara hidupnya pergi meninggalkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Rex mengerjapkan matanya yang masih basah. Dengan tangan gemetar dia membanting setir untuk menepi dipinggir jalan. Dia tidak mampu melanjutkan perjalanan. Sejak saat itu Farah tidak pernah menghubunginya. Dia selalu menghindar dari kejaran Rex. Sampai sebulan kemudian, Rex mendengar kalau Farah menikah. Sebulan. Hanya sebulan sejak dia berlalu dari hadapan Rex. <span> </span>Sakit yang timbul ketika itu, luka yang tidak sembuh hingga sekarang. Farah hanya membutuhkan waktu sebulan untuk melupakan semua waktu yang dia lewati bersama Rex.<span> </span>Butiran – butiran waktu berharga yang disimpan Rex bagaikan harta tak ternilai, yang kadang dikeluarkan hanya untuk melihat kilaunya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Dengan dagu mencapai dadanya, tangan Rex mencengkram dada kirinya. Kesakitan dengan luka yang telah mengering terbuka dan berdarah kembali. Tahun –tahun berlalu sejak hari ketika Farah berbalik dari dirinya. Tetapi Rex tidak pernah sanggup lagi mencinta sedalam itu dan terluka sesakit itu. Puluhan tahun berlalu dengan kesendirian yang anehnya memekakkan telinga. Bayangan – bayangan silih berganti terbayang dipelupuk mata. Bayangan wajah Farah diam membisu menatapnya, bayangan ibunya yang dengan tidak sabar menyuruhnya menikah hingga bayangan ibu yang memohon maaf hingga terisak atas penolakan</span>nya<span lang="IN"> terhadap Farah. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=31&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/11/11/iseng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyawa tak berarti</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/11/11/elegi-pagi-hari/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/11/11/elegi-pagi-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 08:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Dia membuka matanya ketika sinar matahari pagi memaksa masuk melalui celah-celah tirai jendela. Dia mendesah. &#8220;ah, sekali lagi hari yang baru&#8221; sambil tetap berbaring, dia melihat sekeliling kamarnya, kamar sempit berukuran 3&#215;4. Dengan baju-baju kotor yang masih berserakan terlupakan, dengan buku-buku yang bertebaran, berdebu dan tak pernah dibuka. Dia tetap berbaring ditempat tidurnya. Sekali lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=30&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="IN">Dia membuka matanya ketika sinar matahari pagi memaksa masuk melalui celah-celah tirai jendela. Dia mendesah. &#8220;ah, sekali lagi hari yang baru&#8221; sambil tetap berbaring, dia melihat sekeliling kamarnya, kamar sempit berukuran 3&#215;4. Dengan baju-baju kotor yang masih berserakan terlupakan, dengan buku-buku yang bertebaran, berdebu dan tak pernah dibuka. Dia tetap berbaring ditempat tidurnya. Sekali lagi pandangannya melihat sekeliling kamar 3&#215;4 itu. Yang perabotannya hanya tempat tidur kayu, meja kecil<span> </span>yang terletak disampingnya dan lemari plastik diujung ruangan. Dia berpikir &#8220;satu lagi hari sia-sia yang mesti dilewati.’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="IN">Dia menatap langit-langit ruangan lalu kembali menutup mata. Dalam pikirannya silih berganti bayangan lewat. Tentang hidupnya selama ini yang dihabiskan diruangan kecil itu. Lahir, besar, bekerja, menikah. Dia teringat ketika ayah dan ibunya pergi karena dilalap kebakaran sewaktu berada di kios kecil mereka. Lalu istri yang dinikahinya juga pergi meninggalkannya karena muak dengan kamar 3&#215;4 ini dengan membawa anak satu-satunya. &#8220;Tapi aku masih disini&#8221; pikirnya &#8220;Masih hidup disini dengan menyambung hari-hari tak berkesudahan&#8221;. &#8220;Hanya begini. Selalu begini. Hanya ini hidup yang kutahu. hidup yang tak berarti&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="IN">Akhirnya dia membuka matanya. Memaksa kakinya untuk menapak ke lantai yang dingin, bangkit dari tempat tidur dan kembali bekerja. Tetapi tubuhnya terasa sangat berat untuk digerakkan. Dia pun mengalah dan memenuhi dorongan untuk terus berbaring. Kembali dia merenungi hidupnya yang telah lewat selama ini. Ketika dia masih anak kecil dengan ingus keluar dari hidung dan bertelanjang kaki. Hari-harinya kala itu terasa indah. Hanya bermain setiap hari dengan temannya. Apalagi dia tidak dipaksa untuk sekolah oleh orangtuanya. Dia ingat ketika pertama kali menapakkan kaki ke sekolah ketika ibunya<span> </span>hendak mendaftarkannya ke SD. Tetapi belum lama ia berada di sana ibunya langsung menarik tangannya dan berjalan pergi sambil menggumam ‘dasar! Sekolah kok mahal! Udah kamu gak usah sekolah aja. Toh bapak-ibu juga gak sekolah!’.<span> </span>Dengan mata menerawangi langit-langit ia teringat ketika remaja, masih dengan kaki telanjang berjalan di beceknya pasar mengikuti ibunya yang berjualan atau kadang menemani ayahnya yang menjadi kuli. Dia jatuh cinta dengan anak penjual di kios sebelah tempat ibunya biasa berdagang. Teriakan ibunya yang menentang habis-habisan ketika ia mengutarakan niat untuk menikah masih terngiang ‘Masih kecil mau nikah! Mau dikasih makan apa? Mau disuruh hidup dimana? Jangan sok kamu! Cari duit sendiri juga belum bisa!’ Dan isak tangis putus asa ibunya ketika ia kembali meminta restu karena kekasihnya telah hamil. ‘Ibu ternyata benar’ pikirnya ‘Aku memang tidak seharusnya menikah. Orang miskin memang tidak boleh membawa satu nyawa lagi kedunia.’ Anaknya akhirnya sama seperti dirinya, ingusan, telanjang kaki dan tidak bisa sekolah. Sudah lama ia tidak melihat anaknya. Ia menatap mata anaknya yang lugu terakhir kalinya ketika ia dengan tidak berdaya memandang kepergian istrinya yang hendak kawin lagi dengan supir. ‘Dia bisa ngasih gua makan. Gua bisa tinggal dirumah kontrakan! Bukan dikamar sumpek kayak gini!” alasan istrinya ketika itu. Ketika itu ia teringat segala teriakan, semua pertengkaran dengan istrinya. Istrinya tidak bisa hidup hanya dengan bersuamikan kuli. Istrinya lelah berdagang dipasar. Dia mencoba mengingat dengan sia-sia wajah gadis manis dengan siapa ia jatuh cinta. Yang terbayang dipelupuk matanya hanyalah wajah keras istrinya yang penuh guratan kelelahan yang ditoreh oleh kehidupan.Dia kembali menutup mata. ‘Biarlah dia pergi. Aku tak lagi sakit hati. Orang miskin memang tidak seharusnya jatuh cinta.’ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:200%;"><span lang="IN">Hidupnya memang tidak berharga. Dunia selama ini tidak memperdulikannya dan dia yakin apabila dia mati dunia akan terus berjalan seperti biasa. Setetes air mata bergulir dari sudut matanya. Tiba – tiba dia teringat akan tuhan. Bukan tuhan yang sibuk disebut-sebut oleh para politisi. Bukan pula tuhan yang<span> </span>sering dikumandangkan oleh para da’i. Tapi tuhan yang dikutuknya ketika orangtua meninggal, ketika anak dan istrinya pergi, ketika ia masih juga hidup untuk melihat hari esok. Tuhan yang tidak pernah memperdulikannya. Tuhan yang tidak pernah menjawab do’anya. Tuhan yang telah membiarkan dirinya, orang tua dan anaknya tetap miskin, bodoh dan terlupakan. ‘Kau memang tidak ada tuhan’ bisiknya. Kemudian dia berbalik, berbaring telungkup dan menangis sepuas-puasnya dibantal apek dan kotor. Dia menangisi hidupnya yang sia-sia, orangtuanya yang meninggalkannya, istrinya yang pergi mencari hidup yang lebih baik dan anaknya yang tidak akan pernah dilihatnya lagi. Dan dengan sama tiba-tibanya, ia berhenti menangis. Kemudian dengan pandangan mata yang menggambarkan keputusan bulat, ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Selama sepuluh menit ia mandi, membersihkan segala kotoran ditubuhnya yang tidak tersentuh air selama tiga hari. Ia mencuci badannya bersih-bersih, menyikat giginya kuat-kuat. Dan dengan kain tipis dan kering ia mengelap tubuhnya yang basah. Keluar dari kamar mandi, ia melangkah menuju lemari dan berpakaian. Dari pakaiannya yang terbatas, ia memilih baju terbaik yang tidak terlalu kumal dan tidak sobek. Setelah itu berjalan kearah meja kecil dan mengambil tali rafia yang terletak diatasnya. Dia membuka pintu dan berjalan menuju pohon besar yang berada didepan kamarnya dan memanjat. Dengan santai, dia mengikat tali kepohon kemudian membuat simpul diujung tali itu. Sambil memegang simpul itu, dia menutup mata dan menghela nafas, dia berpikir ‘tidak akan ada lagi hari yang baru. Tidak akan ada lagi keputusasaan yang menggelayuti tanpa ujung’. Kemudian dia tersenyum, melingkarkan simpul tali tersebut kesekeliling lehernya dan meloncat dari pohon. Tali mengetat disekeliling leher menahan berat badannya dan menutup jalan udara yang hendak masuk. Selama beberapa menit tidak terdengar suara apapun kecuali erangan seseorang yang sedang sekarat. Ke</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">mudian</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> kegelapan mulai menyelimuti dan kematian menyambutnya</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">.</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Satu lagi nyawa tak berarti hilang diantara ribuan nyawa tak berarti lainnya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=30&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/11/11/elegi-pagi-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Psychographic Segmentation</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/09/08/psychographic-segmentation/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/09/08/psychographic-segmentation/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 15:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Market is now a completely complex animal to marketers. It is vast, huge, and mostly still un-identified. So marketers from time to time devise tools that can somehow give them guidence to understand the market. A relatively new and still much in use tool is &#8216;psychographic segmentation&#8217;. Basically psychographich segmentation is trying to segmented the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=28&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Market is now a completely complex animal to marketers. It is vast, huge, and mostly still un-identified. So marketers from time to time devise tools that can somehow give them guidence to understand the market. A relatively new and still much in use tool is &#8216;psychographic segmentation&#8217;.</p>
<p>Basically psychographich segmentation is trying to segmented the market into groups that bear similar lifestyle, attitude, opinion and interest. Thus marketer will analyze that consumer within the same  group will be attracted to a similar product and will be repulse by others.</p>
<p>So far psychographic segmentation has been very useful for marketer to devise product and marketing strategy for their targeted segment. However, the catch in this tool is that it is very complex yet at the same time it is over simplified.</p>
<p>It is very complex in term of research methodology. By using this tool, you have to devise hundreds of attributes that can explain your customer which in turn you can use it to segment them into groups. It takes a long time, tremendous efforts, and still bear risk of researcher bias.</p>
<p>Yet at the same time it is over simplified. This method based it self in identifying a person personality, his/her lifestyle and how s/he viewed the world. However many psychic has already declared that a person&#8217;s personalitief may varied given different time and circumstances. So you cannot really identified them in one given time (which usually research been conducted in one time only). And critics also rise question as to, &#8220;how can you segmented a vast number of people into 5-8 groups?&#8221; because each person is unique and so is their personality. So accrding to this psychographic segmentation is over simplified.</p>
<p>Despite its pros and cons, until now psychographic segmentation is still one of the best tool to identify the market. Many  marketers still use this tool because it gives better insight compare to other tools like demographic or filmographic segmentation.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=28&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/09/08/psychographic-segmentation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Economic Inequalities: Indonesia and the World</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/05/23/economic-inequalities-indonesia-and-the-world/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/05/23/economic-inequalities-indonesia-and-the-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 04:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[“Globalization is a bottom up phenomenon with all actions initiated by millions of individuals. A global economy can only be the result” (John Naisbitt) In a globalized world, countries are interlinked and creating co-dependencies relationship. This dependency brings many benefits, yet at the same time causes economic inequalities. Economic inequalities is about too few having [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=26&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">“<em>Globalization is a bottom up phenomenon with all actions initiated by millions of individuals. A global economy can only be the result” (John Naisbitt)</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">In a globalized world, countries are interlinked and creating co-dependencies relationship. This dependency brings many benefits, yet at the same time causes economic inequalities. Economic inequalities is about too few having too many. It is about the fact that 2 percent of world’s population having 40% of all the wealth in the world. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">In light of recent economic depression that hit US in mid-July 2007 and since then spread to the world, this essay tries to see the relationship between economic inequalities, Indonesia, the world and its future. <span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Indonesia </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span> </span><span>  </span>Indonesia is the largest archipelago in the world with 200 million citizens and 27,1 % of them are below property line. Before 1997 recession, Indonesia enjoyed growth in GDP form $70 to more than $ 1000 (1996), the inflation rate was always at 5 % – 10 % and rupiahs was predictable. At the time, Indonesia enjoyed the status of new emerging market.<span>  </span>Recession in 1997 changed everything. Indonesia realized that it had many weaknesses, in economic structure, in legal system, and in financial system as a whole. Soon Indonesia was being swept into economic and political crisis. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">After four presidents and ten years later, Indonesia has to face yet another economic crisis while still crippled from the last one. Now the citizen of Indonesia must encounter once again with high commodity prices that causes malnutrition for some and starvation in others. High fuel price forced citizen queuing for hours just to get a few litters of oil to cook. Due to this crisis the majority of citizen of Indonesia must face the fact that they don’t have enough money to live, so they take their children out from school and put them on the street to work. They also have to face the fact that they cannot take their baby to the hospital and have to watch them die from simple diarrhea. For Indonesia and Indonesians, the issue is no longer economic growth, but survival. In regards to this, what will Indonesia be in 20 years?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">The World</span></span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Many said that the world is at its crossroad. Problems like global warming, disasters, starvation, war, and economic injustice plague the citizen of the world. The latest blow is the economic depression. Economic depression started on mid-July in US as sub-prime mortgage crisis. And nine months later, Alan Greenspan, George Soros and Ben Bernanke said that, “<em>this is a global crisis, and it’s getting worse”. </em><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">As the biggest economic forces in the world, what happens in US has great impact to the world. Countries with high dependencies to US, especially low income ones, are impacted. <span> </span>Those countries are now facing slowdown in economic growth. It means that unemployment rate will rise, commodity price will be higher and poor people will have difficulty in maintaining their quality of life. It means that poor countries are threatened to become poorer.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Economic depression started in US will hit poorest countries the hardest. This is called economic injustice. It happens when depression that ‘only’ caused declining in growth and increasing unemployment rate in US causing starvation in poor countries. Economic injustice happens when shared risks between countries are not the same. <span>    </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">The Future </span></span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">The world now is not the same as the world twenty years ago. It is more dynamic and changes are more volatile and rapid. It is more globalized. Therefore the future of the world is much harder to predict. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Indonesia as one of the country that suffered from economic depression must look into itself and see whether it has a future. <span> </span>Under the economic burden, Indonesia must realize that it depends itself too heavily on other country’s economy. Hence, when crisis started to hit US farms, Indonesian will go hungry. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Economic inequalities begin when one country depends too heavily on others. Therefore depression in US must strengthen issue on minimizing economic dependencies. If we do not take this issue seriously, twenty years from now the story will about starvation and famines in Indonesia and other poor countries in the world. Because each time a crisis hit, a dependent country will be hit the hardest.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">If we start lessening economic inequalities and dependencies, in twenty years the world will be a better place to live. If the world society and country like Indonesia lays its policies on achieving the welfare of the poor, the story of the future will be about economic welfare to all. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Economy is not about supply and demand. It is about people, flesh and blood. A globalized economy also means that world citizen has moral obligation to lessen the economic injustice. As Prof. Amartya Sen once said </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>“</em><em><span>Global economic interaction brings benefits for many, but can also create problems for some because of inadequacies of global arrangements as well as limitation of appropriate domestic policies..&#8221;</span> </em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span> </span></span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=26&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/05/23/economic-inequalities-indonesia-and-the-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>atheist</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/atheist/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/atheist/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 15:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Orang seringkali mencibir dan memandang sinis apabila saya dengan tegas berkata, saya atheis! Mereka akan menganggap bahwa saya tidak bermoral, saya tidak berakal budi dan lainnya. Padahal kalau mereka mau melihat lebih lanjut, saya mengambil keputusan untuk menjadi atheis justru karena tuhan penting bagi saya. Saya selalu mencarinya tak pernah kenal lelah sampai akhirnya saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=25&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang seringkali mencibir dan memandang sinis apabila saya dengan tegas berkata, saya atheis!</p>
<p>Mereka akan menganggap bahwa saya tidak bermoral, saya tidak berakal budi dan lainnya.</p>
<p>Padahal kalau mereka mau melihat lebih lanjut, saya mengambil keputusan untuk menjadi atheis justru karena tuhan penting bagi saya. Saya selalu mencarinya tak pernah kenal lelah sampai akhirnya saya memutuskan bahwa Dia memang tidak ada.</p>
<p>Justru orang yang selama ini merasa nyaman dengan agama, tidak pernah memikirkan, tidak pernah menjalankan ibadah, adalah orang yang patut dicela. Mereka dengan seenaknya mencela orang yang menganggap Tuhan dan Agama sangat penting sehingga akhirnya mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Sedangkan mereka sendiri tidak pernah memikirkan dan tidak pernah mengacuhkan Tuhan dan Agama.</p>
<p>Atheis selalu dianggap tak bermoral dan tak berakal budi. Padahal sebaliknya orang beragama lah yang tidak bermoral. Jangan lupa bahwa agama kita tercinta menghalalkan darah orang kafir.</p>
<p>Agama pula telah menewaskan entah berapa puluh juta manusia sepanjang sejarah sejak terciptanya hingga saat ini. Meninggalkan kebencian dan prasangka di tiap-tiap hati penganutnya.</p>
<p>Itu adalah agama yang kalian agung-agungkan</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=25&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/atheist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tuhan</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/tuhan/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 15:32:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[tuhan, engkau adalah pencarian yang tak pernah usai engkau adalah pertanyaan yang tak terjawab tuhan, dalam keberadaanmu yang terbuktikan dalam dirimu yang tak terdefinisikan tuhan, kesempurnaanmu yang menyilaukan tuntutanmu yang melelahkan tuhan, apakah engkau ada apakah engkau disana tuhan, pencarianku yang sia-sia kegundahanku yang tak pernah damai kerinduanku yang tak pernah pupus tuhan, engkau adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=22&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tuhan,<br />
engkau adalah pencarian yang tak pernah usai<br />
engkau adalah pertanyaan yang tak terjawab<br />
tuhan,<br />
dalam keberadaanmu yang terbuktikan<br />
dalam dirimu yang tak terdefinisikan<br />
tuhan,<br />
kesempurnaanmu yang menyilaukan<br />
tuntutanmu yang melelahkan<br />
tuhan,<br />
apakah engkau ada<br />
apakah engkau disana<br />
tuhan,<br />
pencarianku yang sia-sia<br />
kegundahanku yang tak pernah damai<br />
kerinduanku yang tak pernah pupus<br />
tuhan,<br />
engkau adalah batasan yang tak pernah dapat lepas<br />
engkau adalah pikiran yang tak pernah dapat bebas<br />
tuhan,<br />
mencari dirimu selalu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=22&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>coretan</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/coretan/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/coretan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 15:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[siapalah orang-orang yang taat dan beriman selain mereka yang berhasil memandang rendah hidup ini. Dengan sombong menisbikan keadaan didunia dan mencari eksistensi abstrak dalam kehidupan yang belum tentu ada.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=20&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>siapalah orang-orang yang taat dan beriman selain mereka yang berhasil memandang rendah hidup ini.<br />
Dengan sombong menisbikan keadaan didunia dan mencari eksistensi abstrak dalam kehidupan yang belum tentu ada.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=20&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/coretan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Cinta</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/cerita-cinta/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/cerita-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 15:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[“Praak” Hatiku baru saja hancur berkeping-keping. Pecahannya masuk kemataku menyebabkannya mengeluarkan air mata darah. Serpihan &#8211; serpihannya berhamburan kejantungku, hatiku, tangan dan kakiku. Aku terjatuh, terbaring, terluka. Sekarang dengan sisa nafas satu-satu aku harus melanjutkan hidupku. Lima tahun lalu ketika engkau melepaskan selimut kesendirianku, kau berkata �Dengan paluku akan kuhancurkan penjara batumu�. Aku terkesima, aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=18&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyTextIndent" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">“Praak</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Hatiku baru saja hancur berkeping-keping. Pecahannya masuk kemataku menyebabkannya mengeluarkan air mata darah. Serpihan &#8211; serpihannya berhamburan kejantungku, hatiku, tangan dan kakiku. Aku terjatuh, terbaring, terluka. Sekarang dengan sisa nafas satu-satu aku harus melanjutkan hidupku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Lima tahun lalu ketika engkau melepaskan selimut kesendirianku, kau berkata </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">�</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Dengan paluku akan kuhancurkan penjara batumu</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">�</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">. Aku terkesima, aku terpesona. Pada keyakinanmu, suaramu, sosokmu. Kukibarkan bendera putih, menyerah, kalah. Seperti penjara Bastille yang runtuh saat rakyatnya mengamuk mendobrak. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kau yang melukiskan pagi, siang dan malam bagiku. Jari-jari bertaut, tubuh erat berpelukan. Kau berkata “Kau adalah Simone bagi Sartreku”. Aku hanya tersenyum “Aku lebih ingin menjadi Jane untuk Mr.Rochester</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">.  Bibir yang berbisik, mata yang berkabut. Kau, bagiku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Bersamamu, dipergelanganku, waktu telah kehilangan jam tangan. Denganmu, aku tak pernah meragukan esensi, tak pernah menanyakan eksistensi. Aku biasa tertawa, Nietszhe begitu buta dengan pencariannya akan manusia sempurna. Yang dinginkan manusia hanya mencinta dan dicinta. Pantas ia menjadi gila.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Dihari-hari kita bersama, Aku pernah berujar padamu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku bagai Scarlet untuk Rhet mu, aku bagai Ilsa untuk Rick mu”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Engkau tertawa menggoda </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kau terlalu puitis</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"><span> </span>“Bukan” jawabku pendek </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku terlalu sering menonton film lama</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"><span> </span>lalu kita tertawa berdua, lama. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Seperti kebakaran hutan di Kalimantan, Api suatu saat akan padam meninggalkan asap yang bergulung-gulung. <em>Everything must end somehow.</em> Kereta pasti berhenti disebuah stasiun. Begitu juga kita. Lunturnya tawa yang tak pernah luruh, gema teriakan yang menggaung disudut-sudut jiwa. Kau kehilangan cahaya. Aku kehilangan makna. Kita berdua tenggelam dalam palung yang gelap dan dingin. Dunia mengkristal. Aku membeku. Kaupun layu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">We kill each other”</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> bisikmu ketika itu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Setidaknya kita mati bersama</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> balasku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Wajahku mengernyit, ucapanku terdengar seperti sinetron murahan. Kau menatapku dan tersenyum. Senyum pertama yang terulas dibibirmu pada malam itu. Tapi bara yang telah padam tak mampu dikobarkan menjadi nyala api. Walau memakai kipas tukang sate paling ampuh sekalipun. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">“Aku harus pergi</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> katamu ketika itu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">pergilah</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> usirku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku mungkin tak kan kembali</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> ucapmu lagi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">“&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">“Aku tawarkan diriku padamu. Tapi kau menampiknya” Katamu keras seakan ingin mengurai benang kusut yang telah melilit kita. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kau ingin mengikatku”  jawabku </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kau ingin menjadikanku babu tak bergaji. Kau akan mematahkan sayapku.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Ya. Aku ingin memilikimu.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Matamu kembali menatapku </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Jangan pergi</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">�</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> bisikku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku tak bisa menikah denganmu. Aku akan kehilangan diriku</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> “Tapi kalau kau hilang aku akan lenyap. Jangan pergi” </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Kau kembali menatapku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kau egois”  ujarmu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Tapi mungkin aku juga egois ingin membentukmu kedalam lempung cetakanku</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku tidak meninggalkanmu, kau yang membiarkanku pergi</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Engkau belum lagi mencari dirimu sendiri tatkala engkau temukan aku. Kini biarlah engkau kehilangan aku dan menemukan dirimu” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Katamu saat itu, menyitir Zarathrusta. Dan dengan itu kau berlalu. Aku tersesat.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Ingin kuputus nyawaku yang satu-satu. Ingin kurenggut dari paru-paruku yang masih kembang kempis. Bayang-bayang dirimu menjelma menjadi batu yang menindih kepala yang telah ditimbuni bara. Kau menghapus keberadaanku. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Setahun berlalu sejak malam itu. Mataku nyalang menatap hari. Aku bagai laba-laba yang merajut sepi. Aku memandang awan berarak. Tak lagi kesal karena matahari mengkhianatiku dengan bersinar terik. Aku lelah menyalahkan dunia. Aku ingin berubah dari perempuan bodoh, cengeng dan malang yang tak mampu hidup tanpa lelaki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Dalam kesendirian yang meliputi, aku menemukan diriku yang selama ini tenggelam ditelan ombakmu. Aku tidak ingin lagi menjadi bayangan dari cahaya lilinmu. Aku akan beli lampu petromaks.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Tetapi saat aku mulai mampu menapaki hari-hari, kau kembali. Kau menatapku dengan matamu yang kuyu. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku disini.” Ucapmu </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku tak mampu. Kau mengutukku.” </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku hanya menatapmu kelu </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Ketika aku telah menyangkalmu, maka engkau akan kembali padaku. Zarathrusta memang selalu punya jawabannya</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"><span> </span>Kau memandangku aneh. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">“Engkau benar</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> ucapku “Memang aku yang mengusirmu perg” </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Dan engkau tetap benar saat berkata aku akan menemukan diriku. Diriku yang tanpamu” </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kita berdua terdiam. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Kau menundukkan kepalamu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku lelaki yang bodoh</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Bukan kau yang terikat dengan bayangku. Aku yang terpaut dengan dirimu” Kau menghela nafas. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Besok adalah hari pernikahanku. Aku akan menikah dengan perempuan  yang manis, perempuan yang sederhana. Perempuan yang tidak seperti kupu-kupu hingga tidak dapat ditangkap siapapun”</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"><span> </span>Aku tak mampu berkata. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Engkau hanya tersenyum getir. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Tapi aku teringat dirimu. Ternyata kesederhanaan menakutkanku. Aku terlalu terbiasa denganmu yang terlalu banyak sisi. Sehingga segitiga siku-siku membuatku gamang</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Kau menatapku lama, seakan menanti jawaban. Aku yang masih tergugu tak mampu berkata.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;">Aku akan kembali. Pada pengantinku. Pada hidupku yang terpisah darimu.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:#006600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#006600;"> Lalu kau pun berbalik menghilang seperti malam itu. Tidak menoleh lagi. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="background:white none repeat scroll 0;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#336600;">Aku masih membisu. Diriku yang baru kutemukan kembali menghilang. Kehadiranmu mampu menghancurkan diriku menjadi partikel-partikel seukuran nano yang berserakan ke seluruh penjuru ruangan. Kutarik nafas dalam-dalam. separah apapun lukaku, aku masih dapat bernafas satu-satu. Lalu aku meludahkan kalimat yang meracuni kepalaku </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;color:#336600;">“</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#336600;">Laki-laki memang bangsat!</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;color:#336600;">”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#336600;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;color:#336600;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=18&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/cerita-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kami, di negeri ini</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/kami-di-negeri-ini/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/kami-di-negeri-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 15:20:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marxism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[BBM naik lagi, Sekedar mempertahankan nyawa didalam badan ringkih inipun makin mustahil. Nelayan-nelayan kini menatap laut penuh kerinduan, karena solar tak mampu lagi terbeli. Perut anak-anak semakin membusung kelaparan. Petani untuk melanjutkan hidup satu hari lagi dipaksa melihat hamparan sawahnya berubah menjadi mall dan real estate. Tangan kapalannya yang terbiasa memegang cangkul kini hanya berfungsi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=17&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BBM naik lagi,<br />
Sekedar mempertahankan nyawa didalam badan ringkih inipun makin mustahil.<br />
Nelayan-nelayan kini menatap laut penuh kerinduan, karena solar tak mampu lagi terbeli.<br />
Perut anak-anak semakin membusung kelaparan.<br />
Petani untuk melanjutkan hidup satu hari lagi dipaksa melihat hamparan sawahnya berubah<br />
menjadi mall dan real estate.<br />
Tangan kapalannya yang terbiasa memegang cangkul kini hanya berfungsi menahan curahan air mata.<br />
Diputaran jam yang sama lintah-lintah intelektual tertawa-tawa merangkul gelas minuman dihotel<br />
mewah ber-ac.<br />
Pejabat-pejabat menyembah menadah tangan kepada pemberi utang<br />
dengan kaki menginjak-injak rakyat yang seharusnya mereka lindungi.<br />
Pemimpin negara sekali lagi merapalkan kata sabar.<br />
kami, nelayan yang tak pernah lagi mengunjungi laut, petani yang tidak lagi membajak sawah, ingin berteriak.<br />
jangan suruh kami bersabar menahan lapar. sementara engkau membuncit kekenyangan.<br />
Jangan suruh kami menahan amarah<br />
sementara anak-anak kami berlarian telanjang dada tak bersekolah<br />
Atas nama bumi ini,<br />
ketika lapar semakin mendera,<br />
akan kami acungkan cangkul-cangkul yang berkarat tak tersentuh tanah.<br />
jalinan tangan ini akan menghancurkan kaki-kaki penindasmu<br />
saat dada ini tak mampu lagi menahan perih, akan kami nyalakan lentera-lentera perubahan<br />
Dan apa yang akan engkau katakan saat itu?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=17&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/kami-di-negeri-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Kecil dan Jalanan</title>
		<link>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/anak-kecil-dan-jalanan/</link>
		<comments>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/anak-kecil-dan-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 15:18:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuadadisini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marxism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuadadisini.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Anak kecil dipersimpangan lampu merah Tubuh kurus terbungkus kain gombal Tak bersekolah Menadahkan tangan Mengeluarkan suara serak membentuk nyanyian tanpa nada Anak kecil kelaparan Wajah hangus diterpa matahari Mata merah dirayapi asap tebal mobil-mobil yang berserakan dijalan Kaki kapalan telanjang menyusuri aspal panas Anak kecil dengan tangan menadah meminta Tanpa tahu di hotel dihadapannya, Para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=16&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Anak kecil dipersimpangan lampu merah </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Tubuh kurus terbungkus kain gombal</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Tak bersekolah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Menadahkan tangan </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Mengeluarkan suara serak membentuk nyanyian tanpa nada </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Anak kecil kelaparan </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Wajah hangus diterpa matahari</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Mata merah dirayapi asap tebal mobil-mobil yang berserakan dijalan </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Kaki kapalan telanjang menyusuri aspal panas </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Anak kecil dengan tangan menadah meminta </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#336600;">Tanpa tahu di hotel dihadapannya, </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"><span style="color:#000000;"><span style="color:#336600;">Para menteri berkoar, pertumbuhan ekonomi naik lagi tahun ini.</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuadadisini.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuadadisini.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuadadisini.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuadadisini.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuadadisini.wordpress.com&amp;blog=2983968&amp;post=16&amp;subd=akuadadisini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuadadisini.wordpress.com/2008/04/16/anak-kecil-dan-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/35f8da1536802068ae5ab4111b10a59b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akuadadisini</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
